KOTA BANDAR LAMPUNG
Kota Bandar Lampung merupakan ibukota Propinsi Lampung, dulu bernama Tanjungkarang-Telukbetung, kemudian diganti Bandar Lampung tahun 1983. Bagi pendatang dari pulau Jawa, kota ini merupakan gerbang masuk ke pulau Sumatera terutama zaman dahulu ketika pelabuhan Bakaheuni belum dibangun.
Kota Bandar Lampung berpenduduk sekitar 844.608 jiwa meliputi 13 Kecamatan. PDRB berdasarkan harga konstan tahun 2007 mencapai Rp 5.103 Milyar. Jumlah PDRB itu termasuk besar dibanding PDRB Kota-kota di wilayah Sumatera seperti Kota Pakanbaru, Medan, Batam, Padang, Palembang dan sebagainya.
Sebagai Kota yang sekaligus ibukota propinsi, Kota Bandar Lampung mempunyai aktivitas ekonomi yang relatif sibuk sehingga memberi pengaruh nyata dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi masyarakat Kota, termasuk dalam peningkatan kesejahteraan bagi masyarakatnya. Namun pertumbuhan ekonomi yang ada selama ini, belum dirasakan merata oleh seluruh masyarakat kota.
Salah satu indikatornya masih banyak warga miskin dan pengangguran, baik di perkotaan maupun di pedesaan dan permukiman kumuh pinggiran kota, sebagai cermin bening kantong-kantong kemiskinan. Selain itu daerah pesisir merupakan salah satu bagian wilayah terpinggirkan, hingga desa pesisir potensial menjadi wilayah paling miskin.
Sumbangan PDRB Kota Bandar Lampung terbesar adalah sektor perdagangan 19,12 persen, keuangan 17,50 persen, industri 17,22 persen, pengangkutan 16,04 persen, dan jasa-jasa lainnya 15,39 persen. Jika dilihat dari pendapatan per kapita penduduk memang meningkat. Banyak pihak percaya perkembangan ekonomi daerah ini bisa maju, karena perkembangan sektor perdagangan, properti, konsumsi, dan perbankan.
Hal itu dapat dilihat dari pembangunan hotel berbintang, restoran dan pusat-pusat perbelanjaan baru. Di antara hotel berbintang di Bandar Lampung antara lain; Hotel Sheraton, Hotel Markopolo, Hotel Sahid, Hotel Indra Puri, Hotel Arianas, Hotel Hartono dan 38 hotel tidak berbintang.
Banyak hal membuat Kota Bandar Lampung punya daya tarik, terutama sebagai kota dagang terbesar keenam di pulau Sumatera. Selain itu daerah ini terletak di perbukitan dan daerah pantai, sehingga perkembangan ekonominya bisa maju pesat. Hasil pertanian yang menonjol, antara lain hasil tanaman buah-buahan seperti; durian 1.409,8 ton; pisang 922,25 ton; sawo 17.654 ton dan rambutan 337,87 ton, yang terkonsentrasi di Teluk Betung Barat, Kemiling, dan Panjang.
Hasil bumi lainnya yang diperdagangkan adalah kopi, lada, dan pisang. Kopi dari Lampung terutama jenis robusta sudah mampu menembus pasar internasional. Kopi itu dikirim dalam bentuk kering. Ekspor kopi mencapai 43.971,37 ton atau senilai US$ 26 juta. Pasokan kopi kering diperoleh dari sentra-sentra penghasil kopi dari 40 industri rumah tangga yang mengolah kopi kering menjadi bubuk kopi. Sebagian besar bubuk kopi itu masih dikemas secara sederhana, dengan plastik, kaleng atau kertas coklat yang diberi label. Beberapa merek antara lain; Intan, Cap Bola Dunia, Cap Bola Bumi dan sebagainya.
Selain itu, hasil ternak dan tangkapan ikan laut cukup menjanjikan. Hasil ternak seperti unggas (Ayam kampung dan ras) mencapai 867.429 ekor, serta hasil tangakapan ikan laut dan tambak mencapai lebih dari 271.184 ton. Begitu pula dengan perdagangannya yang maju, terlihat dalam ekspor-impor seperti; ekspor kopi 4.581.640 ton, karet 140.295 ton, lada 119.045 ton, dan barang lainnya mencapai 4.481.640 ton.
Di luar semua itu, Kota Bandar Lampung memiliki potensi sebagai daerah wisata, baik wisata laut maupun wisata perkebunan dan perbukitan. Tetapi infrastruktur dan prasarananya masih perlu dibenahi lebih representatif dan memadahi lagi. Ada 11 tempat wisata, di antaranya 3 pantai dan 8 tempat wisata non pantai.
Dengan melihat gambaran di atas, untuk klaster Kota Bandar Lampung adalah; perdagangan, pariwisata dan industri pengolahan atau konsentrasi pada industri pengolahan hasil pertanian dan perkebunan seperti pabrik kopi, pengalengan buah-buahan dan tambak udang. Dan, wisata bahari atau non bahari perlu terus dikembangakan lebih modern dan tak boleh dipandang sebelah mata. Karena Kota Bandar Lampung punya potensi pariwisata yang layak dijual.
Kota Bandar Lampung berpenduduk sekitar 844.608 jiwa meliputi 13 Kecamatan. PDRB berdasarkan harga konstan tahun 2007 mencapai Rp 5.103 Milyar. Jumlah PDRB itu termasuk besar dibanding PDRB Kota-kota di wilayah Sumatera seperti Kota Pakanbaru, Medan, Batam, Padang, Palembang dan sebagainya.
Sebagai Kota yang sekaligus ibukota propinsi, Kota Bandar Lampung mempunyai aktivitas ekonomi yang relatif sibuk sehingga memberi pengaruh nyata dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi masyarakat Kota, termasuk dalam peningkatan kesejahteraan bagi masyarakatnya. Namun pertumbuhan ekonomi yang ada selama ini, belum dirasakan merata oleh seluruh masyarakat kota.
Salah satu indikatornya masih banyak warga miskin dan pengangguran, baik di perkotaan maupun di pedesaan dan permukiman kumuh pinggiran kota, sebagai cermin bening kantong-kantong kemiskinan. Selain itu daerah pesisir merupakan salah satu bagian wilayah terpinggirkan, hingga desa pesisir potensial menjadi wilayah paling miskin.
Sumbangan PDRB Kota Bandar Lampung terbesar adalah sektor perdagangan 19,12 persen, keuangan 17,50 persen, industri 17,22 persen, pengangkutan 16,04 persen, dan jasa-jasa lainnya 15,39 persen. Jika dilihat dari pendapatan per kapita penduduk memang meningkat. Banyak pihak percaya perkembangan ekonomi daerah ini bisa maju, karena perkembangan sektor perdagangan, properti, konsumsi, dan perbankan.
Hal itu dapat dilihat dari pembangunan hotel berbintang, restoran dan pusat-pusat perbelanjaan baru. Di antara hotel berbintang di Bandar Lampung antara lain; Hotel Sheraton, Hotel Markopolo, Hotel Sahid, Hotel Indra Puri, Hotel Arianas, Hotel Hartono dan 38 hotel tidak berbintang.
Banyak hal membuat Kota Bandar Lampung punya daya tarik, terutama sebagai kota dagang terbesar keenam di pulau Sumatera. Selain itu daerah ini terletak di perbukitan dan daerah pantai, sehingga perkembangan ekonominya bisa maju pesat. Hasil pertanian yang menonjol, antara lain hasil tanaman buah-buahan seperti; durian 1.409,8 ton; pisang 922,25 ton; sawo 17.654 ton dan rambutan 337,87 ton, yang terkonsentrasi di Teluk Betung Barat, Kemiling, dan Panjang.
Hasil bumi lainnya yang diperdagangkan adalah kopi, lada, dan pisang. Kopi dari Lampung terutama jenis robusta sudah mampu menembus pasar internasional. Kopi itu dikirim dalam bentuk kering. Ekspor kopi mencapai 43.971,37 ton atau senilai US$ 26 juta. Pasokan kopi kering diperoleh dari sentra-sentra penghasil kopi dari 40 industri rumah tangga yang mengolah kopi kering menjadi bubuk kopi. Sebagian besar bubuk kopi itu masih dikemas secara sederhana, dengan plastik, kaleng atau kertas coklat yang diberi label. Beberapa merek antara lain; Intan, Cap Bola Dunia, Cap Bola Bumi dan sebagainya.
Selain itu, hasil ternak dan tangkapan ikan laut cukup menjanjikan. Hasil ternak seperti unggas (Ayam kampung dan ras) mencapai 867.429 ekor, serta hasil tangakapan ikan laut dan tambak mencapai lebih dari 271.184 ton. Begitu pula dengan perdagangannya yang maju, terlihat dalam ekspor-impor seperti; ekspor kopi 4.581.640 ton, karet 140.295 ton, lada 119.045 ton, dan barang lainnya mencapai 4.481.640 ton.
Di luar semua itu, Kota Bandar Lampung memiliki potensi sebagai daerah wisata, baik wisata laut maupun wisata perkebunan dan perbukitan. Tetapi infrastruktur dan prasarananya masih perlu dibenahi lebih representatif dan memadahi lagi. Ada 11 tempat wisata, di antaranya 3 pantai dan 8 tempat wisata non pantai.
Dengan melihat gambaran di atas, untuk klaster Kota Bandar Lampung adalah; perdagangan, pariwisata dan industri pengolahan atau konsentrasi pada industri pengolahan hasil pertanian dan perkebunan seperti pabrik kopi, pengalengan buah-buahan dan tambak udang. Dan, wisata bahari atau non bahari perlu terus dikembangakan lebih modern dan tak boleh dipandang sebelah mata. Karena Kota Bandar Lampung punya potensi pariwisata yang layak dijual.
| Nama Daerah | : | Kota Bandar Lampung | |
| Status | : | Kota | |
| Luas | : | 197 | km2 |
| Jumlah Kecamatan | : | 13 | Kecamatan |
| Penduduk Laki-Laki | : | 423.423 | jiwa |
| Penduduk Perempuan | : | 421.185 | jiwa |
| Jumlah Penduduk | : | 844.608 | jiwa |
|
Chart.
|
Peta Ekonomi Kota Bandar Lampung
|
Chart.
|
Potensi Ekonomi Andalan Kota Bandar Lampung
INDUSTRI PENGOLAHAN
Industri Bukan Migas
| Industri Kecil | Total | Satuan | ||
|---|---|---|---|---|
| Nilai Produksi | 1.016,77 | Rp. (Milyar) | ||
| Jumlah Investasi | 96,50 | Rp. (Milyar) | ||
| Jumlah Usaha Industri Kecil | 8.720,00 | unit | ||
| Jumlah Tenaga Kerja | 33.744,00 | orang |
Industri Bukan Migas
| Jumlah Tenaga Kerja Industri Kecil | Total | Satuan | ||
|---|---|---|---|---|
| Industri Kimia, Agro dan Hasil Hutan | 20.297,00 | orang | ||
| Industri Logam, Mesin dan Elektronik | 13.447,00 | orang |
Industri Bukan Migas
| Pertumbuhan Industri Kecil | Total | Satuan | ||
|---|---|---|---|---|
| Nilai Produksi | 37,05 | % (persen) | ||
| Investasi | 24,64 | % (persen) | ||
| Usaha Industri | 19,98 | % (persen) | ||
| Tenaga Kerja | 8,72 | % (persen) |
Industri Bukan Migas
| Usaha Industri Kecil | Total | Satuan | ||
|---|---|---|---|---|
| Industri Kimia, Agro dan Hasil Hutan | 4.230,00 | unit | ||
| Industri Logam, Mesin dan Elektronik | 3.263,00 | unit |
PERTANIAN, PETERNAKAN, KEHUTANAN DAN PERIKANAN
Perikanan
| Perikanan | Total | Satuan | ||
|---|---|---|---|---|
| Ikan Tongkol | 784,90 | kilogram | ||
| Ikan Kembung | 749,90 | kilogram | ||
| Tenggiri | 385,50 | kilogram | ||
| Teri | 350,50 | kilogram | ||
| Ekor Kuning | 275,50 | kilogram | ||
| Layang | 250,70 | kilogram | ||
| Selar | 245,50 | kilogram | ||
| Kakap | 215,50 | kilogram | ||
| Lemuru | 200,90 | kilogram | ||
| Bawal | 200,50 | kilogram |
Perikanan
| Perikanan Laut | Total | Satuan | ||
|---|---|---|---|---|
| Laut Basah | 271.184,00 | ton | ||
| Darat Basah | 92,60 | ton |
Peternakan dan Hasil-hasilnya
| Peternakan | Total | Satuan | ||
|---|---|---|---|---|
| Ras Pedaging | 742.850,00 | ekor | ||
| Ayam Buras | 86.364,00 | ekor | ||
| Ras Petelur | 26.745,00 | ekor | ||
| Itik | 6.842,00 | ekor | ||
| Kambing | 5.551,00 | ekor | ||
| Sapi | 1.241,00 | ekor | ||
| Domba | 1.141,00 | ekor |
Tanaman Bahan Makanan
| Buah-buahan | Total | Kecamatan | Jumlah | Satuan |
|---|---|---|---|---|
| Durian | 1.409,81 | Kecamatan Kemiling | 817,80 | ton |
| Kecamatan Teluk Betung Barat | 525,49 | |||
| Pisang | 922,25 | Kecamatan Panjang | 702,40 | ton |
| Kecamatan Kemiling | 84,29 | |||
| Nangka | 380,07 | Kecamatan Kemiling | 153,64 | ton |
| Kecamatan Panjang | 56,73 | |||
| Kecamatan Teluk Betung Barat | 54,05 | |||
| Rambutan | 337,78 | Kecamatan Panjang | 136,94 | ton |
| Kecamatan Teluk Betung Barat | 113,63 | |||
| Kecamatan Kemiling | 52,78 |
Tanaman Bahan Makanan
| Padi dan Palawija | Total | Kecamatan | Jumlah | Satuan |
|---|---|---|---|---|
| Padi Sawah | 7.677,00 | Kecamatan Rajabasa | 5.323,00 | ton |
| Kecamatan Tanjung Seneng | 1.011,00 | |||
| Kecamatan Sukarame | 460,00 | |||
| Ubi Kayu | 2.978,00 | Kecamatan Panjang | 1.138,00 | ton |
| Kecamatan Teluk Betung Utara | 360,00 | |||
| Kecamatan Kemiling | 341,00 | |||
| Padi Ladang | 476,00 | Kecamatan Panjang | 224,00 | ton |
| Kecamatan Teluk Betung Utara | 84,00 | |||
| Kecamatan Teluk Betung Barat | 81,00 |
Tanaman Bahan Makanan
| Sayur-sayuran | Total | Kecamatan | Jumlah | Satuan |
|---|---|---|---|---|
| Sawi | 2.544,00 | Kecamatan Tanjung Karang Timur | 600,00 | ton |
| Kecamatan Sukarame | 576,00 | |||
| Kecamatan Tanjung Seneng | 456,00 | |||
| Bayam | 1.722,00 | Kecamatan Kemiling | 315,00 | ton |
| Kecamatan Kedaton | 273,00 | |||
| Kecamatan Sukarame | 252,00 | |||
| Kangkung | 1.530,00 | Kecamatan Teluk Betung Barat | 270,00 | ton |
| Kecamatan Kemiling | 252,00 | |||
| Kecamatan Tanjung Karang Barat | 216,00 | |||
| Kacang Panjang | 1.142,00 | Kecamatan Kemiling | 269,00 | ton |
| Kecamatan Teluk Betung Utara | 211,00 | |||
| Kecamatan Tanjung Karang Timur | 202,00 |
Sumber : Kota Bandar Lampung dalam Angka 2007, BPS Kota Bandar Lampung.

