KOTA BENGKULU
Kota Bengkulu adalah ibu kota Propinsi Bengkulu. Kota ini luasnya 144,52 Km², berpenduduk 261.000 jiwa, dan meliputi empat Kecamatan. Kotanya terletak di tepi Samudra India, sejajar dengan pegunungan Bukit Barisan. Kota ini terkenal karena pernah menjadi tempat pengasingan Bung Karno pada tahun 1939-1942, termasuk pertemuan Bung Karno dengan Ibu Fatmawati. Selain itu, terdapat benteng peninggalan Inggris, Fort Marlborough, terletak di tepi pantai yang kini sedang dikembangkan untuk tujuan pariwisata.
Berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Bengkulu Tahun 2006 menurut harga konstan (2000), kehidupan ekonominya ditopang sektor Keuangan 31,22 persen, Pertanian 20,28 persen, Pertambangan 16,25 persen, dan Perdagangan 12,73 persen. Aktivitas perdagangan terkonsentrasi di Kecamatan Ratu Agung, Gading Cempaka, Teluk Segara, dan Ratu Samban.
Hasil pertanian yang menonjol adalah, padi 15.433,64 ton dan jagung 1.903,60 ton, ketela pohon 928,00 ton, ketela rambat 166,60 ton. Disusul buah-buahan sekitar 16.000 ton dan sayur-sayuran utamanya 12.123 ton. Hasil produksi tanaman itu terkonsentrasi di Gading Cempaka, Selasar, Teluk Segara, Ratu Sampan, dan Kampung Melayu.
Ke depan, Kota Bengkulu harus berkonsentrasi pada sektor perdagangan sambil mengembangkan industri olahan bahan makanan, agroindustri dan agrobisnis. Untuk itu, intensifikasi peremajaan tanaman pertanian dan perkebunan perlu terus diupayakan. Apalagi kalau dilihat realisasi penerimaan daerah APBD Kota Bengkulu 2006 mengalami kenaikan sebesar 74,12 persen, dari Rp 232,29 milyar menjadi Rp 313,18 milyar.
Dalam menganalisis perekonomian Kota Bengkulu agak kesulitan karena PDRB harga konstan yang bisa digunakan untuk melihat kondisi ekonomi datanya tidak lengkap. Namun, gambaran umum di daerah ini (tak jauh berbeda), dan didominasi sektor pertanian dan perkebunan, perdagangan dan Keuangan.
Sektor pertanian dan industri pengolahan justru paling banyak menyerap tenaga kerja yang ada. Tetapi sayang, mereka masih hidup miskin dan terpinggirkan. Kini saatnya kembali ke pertanian dan diupayakan menyejahterakan para petunia, buruh tani, pekerja kebun, termasuk peternak dan nelayan.
Karena itu, untuk Klaster Kota Bengkulu perlu dipertahankan perdagangan dan industri pengolahan bahan makanan hasil pertanian dam perkebunan, termasuk mempertahankan tanaman pangan utamanya; padi, jagung, durian, mangga, rambutan, kangkung, dan ketimun.
Berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Bengkulu Tahun 2006 menurut harga konstan (2000), kehidupan ekonominya ditopang sektor Keuangan 31,22 persen, Pertanian 20,28 persen, Pertambangan 16,25 persen, dan Perdagangan 12,73 persen. Aktivitas perdagangan terkonsentrasi di Kecamatan Ratu Agung, Gading Cempaka, Teluk Segara, dan Ratu Samban.
Hasil pertanian yang menonjol adalah, padi 15.433,64 ton dan jagung 1.903,60 ton, ketela pohon 928,00 ton, ketela rambat 166,60 ton. Disusul buah-buahan sekitar 16.000 ton dan sayur-sayuran utamanya 12.123 ton. Hasil produksi tanaman itu terkonsentrasi di Gading Cempaka, Selasar, Teluk Segara, Ratu Sampan, dan Kampung Melayu.
Ke depan, Kota Bengkulu harus berkonsentrasi pada sektor perdagangan sambil mengembangkan industri olahan bahan makanan, agroindustri dan agrobisnis. Untuk itu, intensifikasi peremajaan tanaman pertanian dan perkebunan perlu terus diupayakan. Apalagi kalau dilihat realisasi penerimaan daerah APBD Kota Bengkulu 2006 mengalami kenaikan sebesar 74,12 persen, dari Rp 232,29 milyar menjadi Rp 313,18 milyar.
Dalam menganalisis perekonomian Kota Bengkulu agak kesulitan karena PDRB harga konstan yang bisa digunakan untuk melihat kondisi ekonomi datanya tidak lengkap. Namun, gambaran umum di daerah ini (tak jauh berbeda), dan didominasi sektor pertanian dan perkebunan, perdagangan dan Keuangan.
Sektor pertanian dan industri pengolahan justru paling banyak menyerap tenaga kerja yang ada. Tetapi sayang, mereka masih hidup miskin dan terpinggirkan. Kini saatnya kembali ke pertanian dan diupayakan menyejahterakan para petunia, buruh tani, pekerja kebun, termasuk peternak dan nelayan.
Karena itu, untuk Klaster Kota Bengkulu perlu dipertahankan perdagangan dan industri pengolahan bahan makanan hasil pertanian dam perkebunan, termasuk mempertahankan tanaman pangan utamanya; padi, jagung, durian, mangga, rambutan, kangkung, dan ketimun.
| Nama Daerah | : | Kota Bengkulu | |
| Status | : | Kota | |
| Luas | : | 145 | km2 |
| Jumlah Kecamatan | : | 8 | Kecamatan |
| Penduduk Laki-Laki | : | 129.368 | jiwa |
| Penduduk Perempuan | : | 132.252 | jiwa |
| Jumlah Penduduk | : | 261.620 | jiwa |
|
Chart.
|
Peta Ekonomi Kota Bengkulu
|
Chart.
|
Potensi Ekonomi Andalan Kota Bengkulu
PERTANIAN, PETERNAKAN, KEHUTANAN DAN PERIKANAN
Perikanan
| Perikanan | Total | Satuan | ||
|---|---|---|---|---|
| Nilai Kolam | 1.512.400,00 | Rp | ||
| Umum | 854.760,00 | Rp | ||
| Tambak | 798.480,00 | Rp | ||
| Kolam | 189,00 | ton | ||
| Umum | 142,00 | ton | ||
| Tambak | 100,00 | ton |
Peternakan dan Hasil-hasilnya
| Peternakan Unggas | Total | Satuan | ||
|---|---|---|---|---|
| Ras Pedaging | 1.212.137,00 | ekor | ||
| Ayam Buras | 264.253,00 | ekor | ||
| Itik | 23.385,00 | ekor |
Tanaman Bahan Makanan
| Buah-buahan | Total | Satuan | ||
|---|---|---|---|---|
| Pisang | 14,00 | ton | ||
| Durian | 8,00 | ton | ||
| Alpukat | 6,00 | ton |
Tanaman Bahan Makanan
| Padi dan Palawija | Total | Satuan | ||
|---|---|---|---|---|
| Padi Sawah | 15.434,00 | ton | ||
| Jagung | 1.904,00 | ton | ||
| Ketela Pohon | 928,00 | ton | ||
| Ketela Rambat | 167,00 | ton | ||
| Padi Gogo | 15,00 | ton |
Tanaman Bahan Makanan
| Sayur-sayuran | Total | Satuan | ||
|---|---|---|---|---|
| Ketimun | 12,00 | ton | ||
| Melinjo | 8,00 | ton | ||
| Terung | 8,00 | ton |
INDUSTRI PENGOLAHAN
Industri Bukan Migas
| Total | Satuan | |||
|---|---|---|---|---|
| Usaha Industri Kerajinan | 76,00 | unit |
Industri Bukan Migas
| Industri | Total | Satuan | ||
|---|---|---|---|---|
| Nilai Investasi Industri Kerajinan | 2.075.210,00 | Rp | ||
| Industri Kerajinan | 76,00 | unit |
Sumber : Kota Bengkulu dalam Angka 2006, BPS Kota Bengkulu.

