KOTA METRO
Kota Metro berkembang menjadi kota transit bagi pendatang yang ingin menikmati kawasan yang sedang berkembang menjadi kota wisata. Lokasi Kota Metro yang dikelilingi pegunungan, rimba, laut, dan pantai sungguh strategis untuk dijadikan tempat peristirahatan atau daerah tujuan wisata. Dengan demikian, industri tujuan daerah wisata dan industri pariwisata bias dijadikan unggulan kehidupan ekonomi di Kota Metro.
Struktur perekonomian Kota Metro didominasi tiga sektor, yaitu Jasa-jasa, Pertanian dan Perdagangan yang memberikan andil 65 persen terhadap pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Tetapi sejak tahun 2004 terjadi perubahan dengan meningkatnya sektor keuangan, hingga menggeser sektor pertanian.
Kontribusi sektor primer terhadap perekonomian Kota Metro selalu mengalami penurunan tiap tahun sedangkan sektor sekunder dan tersier kontribusinya naik. Prosentase ketompok sektor itu terhadap pembentukan PDRB Kota Metro tahun 20076, adalah; sektor primer 16,15 persen, sektor sekunder 12,59 persen dan sektor tersier 71,26 persen.
Seperti daerah lain di Lampung, pertanian masih merupakan salah satu potensi yang layak dikembangkan. Produksi tanaman pangan dan peternakan menjadi penyumbang ekonomi pertanian di samping perdagangan besar dan eceran. Sampai sekarang terdapat 3.519 hektar sawah yang bisa dipanen. Rata-rata produksinya mencapai 5 ton/Ha dengan total produksi padi 28 ribu ton, jagung 25 ribu ton, dan sayur-sayuran 23 ribu ton.
Selain itu, struktur ekonomi Kota Metro sesuai ciri ekonomi di daerah perkotaan didominasi sektor Jasa-jasa keuangan 40,66 persen, Konstruksi dan Bangunan 18,26 persen, perdagangan 9,12 persen dan industri pengolahan 4,60 persen. Lebih dari 72 persen PDRB yang ada disumbang dari sektor perdagangan, industri, keuangan, konstruksi, dan jasa-jasa. Sektor pertanian menyumbang 13,91 persen.
Munculnya beberapa perusahaan konstruksi dan industri pengolahan makanan dan minuman serta jasa keuangan dan pusat perbelanjaan menjadi awal pergeseran ekonomi di Kota Metro. Industri pengolahan makanan dan minuman memegang peranan penting dalam memacu roda ekonomi di daerah ini. Industri pengolahan tumbuh pesat, bukan hanya industri besar dan menengah, tapi juga industri kecil dan rumah tangga. Bahkan Kota Metro dikenal sebagai salah satu pilar ekonomi rakyat karena banyaknya industri kecil dan rumah tangga.
Meskipun hanya menempati peringkat empat dalam kontribusi terhadap PDRB, sektor pertanian masih unggul dalam penyerapan tenaga kerja. Sektor ini memberi sumbangan 13,91 persen, dan menyerap 42 persen angkatan kerja. Sedangkan sektor industri hanya menyerap sekitar 13 persen angkatan kerja.
Hasil pertanian yang menjanjikan antara lain; padi 28.643,80 ton, jagung 25.972 ton dan sayur-sayuran 23.360 ton. Kemudian ternak unggas Ayam 435.135 ekor dan produksi telur ayam 2.501.137 Kg. Semua itu terkonsentrasi di Kecamatan Metro Utara, Metro Timur, Metro Selatan dan Metro Barat.
Menyadari betapa pentingnya peranan sektor pertanian, Kota Metro belakangan aktif mendorong munculnya industri olahan berbasis pertanian. Seperti industri pengolahan melinjo dan madu, pembuatan makanan basah dan kering, minuman herbal dari tumbuh-tumbuhan dan obat-obatan. Daerah ini juga dikenal pembuat kripik pisang. Selain itu objek wisata mulai dikembangkan berbasis agroboisnis dan kelauatan. Untuk klaster Kota Metro, sektor perdagangan, industri olahan, dan pariwisata perlu dikembangkan lebih baik ke depan.
Struktur perekonomian Kota Metro didominasi tiga sektor, yaitu Jasa-jasa, Pertanian dan Perdagangan yang memberikan andil 65 persen terhadap pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Tetapi sejak tahun 2004 terjadi perubahan dengan meningkatnya sektor keuangan, hingga menggeser sektor pertanian.
Kontribusi sektor primer terhadap perekonomian Kota Metro selalu mengalami penurunan tiap tahun sedangkan sektor sekunder dan tersier kontribusinya naik. Prosentase ketompok sektor itu terhadap pembentukan PDRB Kota Metro tahun 20076, adalah; sektor primer 16,15 persen, sektor sekunder 12,59 persen dan sektor tersier 71,26 persen.
Seperti daerah lain di Lampung, pertanian masih merupakan salah satu potensi yang layak dikembangkan. Produksi tanaman pangan dan peternakan menjadi penyumbang ekonomi pertanian di samping perdagangan besar dan eceran. Sampai sekarang terdapat 3.519 hektar sawah yang bisa dipanen. Rata-rata produksinya mencapai 5 ton/Ha dengan total produksi padi 28 ribu ton, jagung 25 ribu ton, dan sayur-sayuran 23 ribu ton.
Selain itu, struktur ekonomi Kota Metro sesuai ciri ekonomi di daerah perkotaan didominasi sektor Jasa-jasa keuangan 40,66 persen, Konstruksi dan Bangunan 18,26 persen, perdagangan 9,12 persen dan industri pengolahan 4,60 persen. Lebih dari 72 persen PDRB yang ada disumbang dari sektor perdagangan, industri, keuangan, konstruksi, dan jasa-jasa. Sektor pertanian menyumbang 13,91 persen.
Munculnya beberapa perusahaan konstruksi dan industri pengolahan makanan dan minuman serta jasa keuangan dan pusat perbelanjaan menjadi awal pergeseran ekonomi di Kota Metro. Industri pengolahan makanan dan minuman memegang peranan penting dalam memacu roda ekonomi di daerah ini. Industri pengolahan tumbuh pesat, bukan hanya industri besar dan menengah, tapi juga industri kecil dan rumah tangga. Bahkan Kota Metro dikenal sebagai salah satu pilar ekonomi rakyat karena banyaknya industri kecil dan rumah tangga.
Meskipun hanya menempati peringkat empat dalam kontribusi terhadap PDRB, sektor pertanian masih unggul dalam penyerapan tenaga kerja. Sektor ini memberi sumbangan 13,91 persen, dan menyerap 42 persen angkatan kerja. Sedangkan sektor industri hanya menyerap sekitar 13 persen angkatan kerja.
Hasil pertanian yang menjanjikan antara lain; padi 28.643,80 ton, jagung 25.972 ton dan sayur-sayuran 23.360 ton. Kemudian ternak unggas Ayam 435.135 ekor dan produksi telur ayam 2.501.137 Kg. Semua itu terkonsentrasi di Kecamatan Metro Utara, Metro Timur, Metro Selatan dan Metro Barat.
Menyadari betapa pentingnya peranan sektor pertanian, Kota Metro belakangan aktif mendorong munculnya industri olahan berbasis pertanian. Seperti industri pengolahan melinjo dan madu, pembuatan makanan basah dan kering, minuman herbal dari tumbuh-tumbuhan dan obat-obatan. Daerah ini juga dikenal pembuat kripik pisang. Selain itu objek wisata mulai dikembangkan berbasis agroboisnis dan kelauatan. Untuk klaster Kota Metro, sektor perdagangan, industri olahan, dan pariwisata perlu dikembangkan lebih baik ke depan.
| Nama Daerah | : | Kota Metro | |
| Status | : | Kota | |
| Luas | : | 69 | km2 |
| Jumlah Kecamatan | : | 5 | Kecamatan |
| Penduduk Laki-Laki | : | 65.676 | jiwa |
| Penduduk Perempuan | : | 64.672 | jiwa |
| Jumlah Penduduk | : | 130.348 | jiwa |
|
Chart.
|
Peta Ekonomi Kota Metro
|
Chart.
|
Potensi Ekonomi Andalan Kota Metro
| Peternakan | Total | Kecamatan | Jumlah | Satuan |
|---|---|---|---|---|
| Kambing | 7.779,00 | Kecamatan Metro Pusat | 3.521,00 | ekor |
| Kecamatan Metro Timur | 1.464,00 | |||
| Kecamatan Metro Selatan | 1.291,00 | |||
| Domba | 4.229,00 | Kecamatan Metro Pusat | 2.118,00 | ekor |
| Kecamatan Metro Utara | 569,00 | |||
| Kecamatan Metro Selatan | 564,00 | |||
| Sapi | 2.188,00 | Kecamatan Metro Selatan | 766,00 | ekor |
| Kecamatan Metro Utara | 721,00 | |||
| Kecamatan Metro Timur | 385,00 | |||
| Kerbau | 1.031,00 | Kecamatan Metro Selatan | 511,00 | ekor |
| Kecamatan Metro Timur | 200,00 | |||
| Kecamatan Metro Utara | 174,00 | |||
| Babi | 458,00 | Kecamatan Metro Pusat | 195,00 | ekor |
| Kecamatan Metro Timur | 188,00 | |||
| Kecamatan Metro Selatan | 45,00 |
Tanaman Bahan Makanan
| Padi dan Palawija | Total | Kecamatan | Jumlah | Satuan |
|---|---|---|---|---|
| Padi Sawah | 20.643,80 | Kecamatan Metro Selatan | 7.529,60 | ton |
| Kecamatan Metro Barat | 4.218,50 | |||
| Kecamatan Metro Utara | 3.795,00 | |||
| Jagung | 1.939,00 | Kecamatan Metro Pusat | 245,00 | ton |
| Kecamatan Metro Timur | 227,70 | |||
| Kecamatan Metro Barat | 178,50 | |||
| Padi Ladang | 40,00 | Kecamatan Metro Utara | 40,00 | ton |
Sumber : Kota Metro dalam Angka 2007, BPS Kota Metro.

